Kamis, 04 November 2010

LAPORAN MIKROBIOLOGI (medium pertumbuhan mikroorganisme)


BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Sebelum melakukan pengamatan terhadap bakteri dan jamur di laboratorium, telebih dahulu kita harus menumbuhkan atau membiakan bakteri/jamur tersebut. Mikroorganisme dapat berkembang biak dengan alami atau dengan bantuan manusia. Mikroorganisme yang dikembangkan oleh manusia diantaranya melalui substrat yang disebut media. Untuk melakukan hal ini, haruslah dimengerti jenis-jenis nutrisi yang diisyaratkan oleh bakteri atau jamur dan juga macam lingkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhannya. Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya.
Dalam bidang mikrobiologi, dipelajari mengenai mikroba yang meliputi bakteri, fungi atau mikroorganisme lainnya, baik dalam morfologi dan penampakan koloninya. Karena itu, untuk melihat dengan jelas penampakan mikroba tersebut, terlebih dahulu kita membuat biakan atau piaraan organisme. Sebelumnya, bahan serta peralatan harus dalam keadaan steril, artinya pada bahan dan peralatan yang ingin dipergunakan tidak terdapat mikroba lain yang tidak diharapkan. Proses dari kegiatan steril disebut sterilisasi.
Sementara itu, untuk menumbuhkan mikroorganisme yang sudah dibiakkan (murni) digunakan media. Media merupakan campuran dari beberapa zat-zat makanan untuk pertumbuhan mikroba dan berfungsi sebagai nutrisi bagi mikroba tersebut. Media dibedakan berdasarkan fase (sifat fisik media), yaitu media padat, media setengah padat, media cair, dan berdasarkan komposisinya, yaitu media sintesis, media semi sintesis, dan media non sintesis. Dari media tersebut, maka kita dapat mengetahui sifat dan bentuk (koloni) dari mikroba.
Pada penelitian ini saya akan membuat piaraan mikroba dengan menggunakan media padat, yaitu agar-agar sebagai tempat pertumbuhan mikroba dan media apel serta kentang untuk mengetahui pertumbuhan organisme dari beberapa macam tanah. Setelah itu mengidentifikasi sifat dan koloni mikroba yang terdapat pada biakan.

B. TUJUAN
  1. Mengetahui dan mengamati pertumbuhan mikroorganisme pada media tauge dan kentang.
  2. Mempelajari teknik / cara dari proses sterilisasi pada alat dan bahan.
  3. Mempelajari dan mengetahui cara pembuatan media padat Potato Dextrose Agar (PDA).
  4. Memepelajari teknik / cara penanaman mikroba
  5. Mengamati sifat pertumbuhan dan bentuk koloni mikroba pada berbagai media.


C. MANFAAT
1.      Mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang cara pembuatan media untuk pertumbuhan bakteri.
2.      Mahasiswa dapat melakukan proses sterilisasi dengan autoklaf.
3.      Mahasiswa dapat mengetahui tentang perkembangan bakteri yang terkontaminasi pada media.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Medium merupakan suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikroorganisme. Medium agar merupakan salah satu tehnik yang sangat baik untuk memisahkan mikroba sehingga dapat diketahui masing-masing. Menurut Pelczar (1988) dasar makanan yang paling baik bagi pemeliharaan dan pembiakan bakteri adalah medium yang mengandung zat-zat organik seperti rebusan daging, sayur-sayuran, sisa makanan atau ramuan-ramuan yang dibuat oleh manusia.
Dalam pembuatan medium harus memenuhi syarat-syarat berikut :
·         Medium harus memenuhi semua kebutuhan nutrien yang mudah digunakan oleh mikroorganisme.
·         Medium tidak mengandung zat pengahambat pertumbuhan.
·         Medium harus steril.
·         Medium harus memiliki tekanan osmose, pH dll.
Mikroorganisme tersebar di alam dengan berbagai macam jenis dan sifat fisiologis yang beragam, dimana mikroorganisme tersebut mempunyai kebutuhan akan nutrien yang berbeda-beda pula. Namun demikian susunan kimia selnya hampir sama atau lebih sama, yaitu terdiri atas air yang merupakan bagian terbesar, yaitu 80-90%, sedangkan sisanya berupa komponen lainnya seperti protoplasma, dinding sel, membran sitoplasma, cadangan makanan (lemak, polisakarida, polifosfat, protein, dan lain-lain) yang berat keringnya kurang lebih 0-20%.
Mikroorganisme dapat menggunakan makanan dalam bentuk padat dan dapat pula yang hanya menggunakan bahan-bahan dalam bentuk cairan atau larutan. Mikroorganisme yang menggunakan makanannya dalam bentuk padat tergolong tipe holozoik. Mikroorganisme yang dapat menggunakan makanannya dalam bentuk cairan atau larutan disebut holofitik. Ada beberapa mikroorganisme yang dapat menggunakan makanannya dalam bentuk padatan, tetapi makanan tersebut sebelumnya harus dicerna, di luar sel dengan bantuan enzim ekstraseluler.
Peran utama nutrien adalah sebagai sumber energi, bahan pembangun sel, dan sebagai aseptor elektron dalam reaksi bioenergetik (reaksi yang menghasilkan energi). Oleh karenanya bahan makanan yang diperlukan terdiri dari air, sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron, sumber mineral, faktor pertumbuhan, dan nitrogen. “Selain itu, secara umum nutrient dalam media pembenihan harus mengandung seluruh elemen yang penting untuk sintesis biologik oranisme baru.
Tiap sel harus mensintesis sendiri konstituen tubuhnya dari zat-zat sederhana yang ditemukan dalam lingkungannya. Kebanyakan dari zat-zat ini berupa makanan dalam bentuk suspensi atau larutan yang ditemukan dalam air laut, sungai, danau, air selokan (gorong), atau bahan-bahan organik lain yang mengalami penguraian, dan sebagainya. Sifat kimia dan fisika dari habitat ini menentukan jenis organisme yang dapat tumbuh atau hidup di lingkungan itu.
Zat-zat tidak menghasilkan energi pada sel tetapi mutlak diperlukan untuk pertumbuhan dan untuk menjalankan fungsi sel diberi bermacam-macam nama seperti nutrilit esensial, faktor tumbuh, atau mikronutrien.
Ada yang dikenal dengan mikronutrin anorganik. Beberapa unsur logam berat (Co, Mo, Cu, Zn) sangat dibutuhkam untuk kehidupan sel meskipun jumlah yang digunakan sangat sedikit. Kadang-kadang jumlah itu demikian kecilnya sehingga sukar dideteksi, atau bila ditemukan tidak mudah dapat dipastikan apakah zat itu bersifat fungsional atau hanya kotoran belaka. Ada pula yang dikenal dengan mikronutrin organik. Contoh yang baik adalah vitamin. Banyak bakteri yang tidak membutuhkannya, sedangkan ada pula yang hampir selalu memerlukannya seperti halnya manusia.
Medium adalah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikroba. Selain untuk menumbuhkan mikroba, medium dapat digunakan pula untuk osilasi, memperbnayak, pengujian sifat-sifat fisiologi, dan perhitungan mikroba.



BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan bahan
Alat :
a)      Becker glass
b)      Erlemeyer
c)      Cawan petri
d)     Tabung reaksi
e)      Batang pengaduk
f)       Neraca analitik
g)      Alumunium foil
h)      Plastic crap
i)        Kapas
j)        Autoklaf

Bahan :
a)      PDA ( potato dextrose agar)
b)      TEA ( tuoge extract agar)
c)      NA
d)     Aq dest
e)      Gula
f)       Agar

Posedur pembuatan ekstract alamiah :
1.      Berisihkan kentang / tauge.
2.      Timbang 10gr
3.      Untuk kentang di potong dadu-dadu kecil.
4.      Tambahkan 100ml air, rebus.
5.      Saring dengan kain kasa.
6.      Jadilah extract kentang / tauge.

Prosedur pembuatan medium alamiah :
1.      Dalam erlemeyer besar masukkan extract kentang atau tauge yang sudah dibuat terlebih dahulu.
2.      Tambahkan gula 1%
3.      Tambahkan agar 2 %
4.      Dan air ad 100ml.
5.      Lalu Panaskan sampai mendidih sambil di aduk.
6.      Setelah terlarut semua, saring dengan kapas yang dililit kain kasa.
7.      Masukkan dalam 5 tabung reaksi masing-masing 4ml.sumbat dengan kapas.
8.      Untuk sisanya tetap pada erlemeyer. Sumbat dengan kapas. sterilkan
Prosedur pembuatan medium sintesis  :
1.      Timbang medium.
2.      Tambahkan NA  20gr untuk 1liter.
3.      PDA sintesis 39gr untuk 1 liter
4.      Aq dest ad 100ml
5.      Masukkan bahan-bahan ke dalam erlemeyer.
6.      Tambahkan aq dest setengahnya.
7.      Bilas alumunium foil dengan aq dest
8.      Panaskan sampai mendidih.
9.      Masukkan dalam 5 tabung reaksi.
10.  Sisanya biarkan dalam erlemeyer sumbat dengan kapas.
11.  Sterilisasi dengan autoklaf.
B. isolasi mikroba
1.      Siapkan cawan petri yang sudah di sterilkan.
2.      Keluarkan tabung reaksi dan erlemeyer yang di sterilkan dari autoklaf.
3.      Bersihkan tangan dan meja dengan alkohol 70 %
4.      Nyalakan api bunsen, sterilkan pinggiran pada cawan petri.
5.      Sterilakan mulut erlemeyer
6.      Buka celah sedikit pada cawan, tuangkan media dari erlemeyer ke cawan, usahakan dekat dengan bunsen agar mematikan mikroba di sekitar.
7.      Sterilkan kembali pinggiran cawan dengan  bunsen.
8.      Ratakan dengan menggeserkan cawan pada meja dengan membentuk angka ‘8’
9.      Diamkan.
10.  Masukkan cawan petri, erlemeyer, dan tabung reaksi ke dalam kulkas. Untuk tabung digunakan media slant (miring).


 
BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN

A. Hasil
kelompok
Media
Kontaminasi
Kelompok 1
PDA
-
Kelompok 2
TEA
Khamir
Kelompok 3
NA
Khamir

No
Ciri fisik
Agar kaldu pepton
PDA alami
TEA
NA
PDA sintesis
1
Warna

Kuning pucat
Putih
Kuning
Kuning terang
2
Padat/cair

Cair
Cair
Cair
Cair
3
Jernih/keruh

Jernih
Keruh
Jernih
Jernih
4
Kontaminasi

-
Ya
Ya
Ya
5
Jenis mikroba

khamir
khamir
Khamir
khamir


B. Pembahasan
            Medium pertumbuhan jasad renik adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran bahan makanan yang mengandung nutrien untuk pertmbuhan jasad renik tersebut. Medium digunakan untuk mikroorganisme tumbuh, untuk isolasi.
 Dalam pembuatan medium harus memenuhi syarat-syarat berikut :
·         Medium harus memenuhi semua kebutuhan nutrien yang mudah digunakan oleh mikroorganisme.
·         Medium tidak mengandung zat pengahambat pertumbuhan.
·         Medium harus steril.
·         Medium harus memiliki tekanan osmose, pH dll.
Untuk membuat medium diperlukan bahan-bahan yang dapat dikelompokkan menjadi 3 macam yaitu :
1.      Bahan dasar
a.       Air
b.      Agar (berasal dari rumput laut) tidak terurai oelh mikroba, membekupada suhu 15oc dan mencair pada suhu relatif rendah 45oc
c.       Gelatin, yaitu protein yang dapat diurai oleh mikroba, sifatnya seperti agar.
Silika gel, yaitu bahan yang mengandung natrium silikat khusu untuk menumbuhkan mikroba bersifat autotrof obligat.
2.      Unsur nutrisi atau makanan
a.       Sumber karbon, contoh : karbohidrat, lemak, asam organik.
b.      Sumber nitrogen, contoh : pepton, protein.
c.       Garam-garam mineral, contoh : K,Na, Fe, Mg
d.      Vitamin
e.       Bahan alami, contoh : sari buah, eksract sayur, susu, darah.
3.      Bahan tambahan, yaitu bahan yang sengaja ditambahkan kedalam medium untuk tujuan tertentu, seperti : bahan indicator (phenol red), antibiotik.

Klasifikasi medium di bagi menjadi 2 :
·         Klasifikasi medium menurut bahan yang di gunakan :
a.       Medium alamiah : medium yang  bahan dasarnya berupa substrat bahan alam, seperti : sari buah wortel,jagung, sari buah anggur.
b.      Medium semi alamiah : medium alamiah di tambahkan ke dalamnya senyawa kimia seperti medium : PDA, TEA
c.       Medium buatan atau medium sintesis adalah mediun yang komposisinya telah di tentukan dan terdiri dari bahan kimia, contoh : Czapeks Dox Agar.
·         Klasifikasi medium menurut kegunaanya :
a.       Medium umum : medium yang dapat ditumbuhi oleh mikroorganisme secara umum. Contoh :SDA (Saubouround Dextrose Agar), TEA, PDA dll.
b.      Medium selektif : medium yang komposisinya di atur sedemikian rupa sehingga hanya ada jenis mikroorganisme tertentu yang dapat tumbuh. Contoh : SSA (salmonella Shigella Agar), BGLB ( Brilliant Green Lactose Broth).
c.       Medium differensial  : medium yang digunakan untuk membedakan jenis mikroorganisme yang satu dengan yang lainnya. Contoh : Blood Agar, EMBA (Eosin Methylene Blue Agar).
d.      Medium pengkayaan (Enrichment Medium) : medium untuk menumbuhkan mikroorganisme tertentu yang diharapkan memiliki jumlah sel yang lebih banyak untuk tujuan tertentu, seperti YMA (Yeast Malt Agar) medium pertumbuhan yang baik untuk sel khamir.




·         Preparasi medium dalam tabung dan cawan ada 3 yaitu :
a.       Agar miring/slant
Medium agar miring dibuat dengan memasukkan 3-5 ml (4ml) medium ke dalam tabung reaksi, kemudian disterilisasi pada autoklaf suhu 121o selama 15 menit. Setelah di autoklaf baru dimiringkan sesuai dengan sudut kemiringan yang diinginkan, biarkan hingga mengeras.
b.      Agar tegak / deep
Medium yang dibuat dimasukkan ke dalam rak tabung reaksi 3-5ml (4ml) di autoklaf, setelah itu segera simpan di rak tabung biarkan mengeras.

c.       Agar cawan
dari medium yang dibuat dimasukkan ke dalam labu ukur erlemeyer kemudian di sterilisasi dengan autoklaf. Setelah itu tunggu hingga medium hangat kuku dan segera tuang ke dalam cawan petri steril secara aseptis, proses penuangan harus segera dilakukan menghindari bekunyaa medium.

Medium TEA
Medium TEA digunakan untuk menumbuhkan jamur (khamir dan kapang). Medium TEA ini, berdasarkan konsistensinya termasuk dalam medium (solid medium) dan termasuk dalam medium semi alamiah karena tersusun dari bahan-bahan alamiah dan bahan sintetik. Serta termasuk dalam medium non-sintetik karena tersusun dari bahan-bahan organik dan susunan kimianya tidak dapat ditentukan secara pasti. Berdasarkan fungsinya, TEA termasuk medium penguji (assay medium), karena dapat digunakan untuk pengujian vitamin, asam-asam amino, dan lain-lain. Melalui medium ini dapat diamati bentuk-bentuk koloni dan bentuk pertumbuhan jamur. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat medium ini, antara lain:
- Tauge, berfungsi sebagai sumber energi dan bahan mineral bagi mikroba, pemberi vitamin E yang diperlukan oleh mikroba, juga sebagai sumber nitrogen.
- Sukrosa, sebagai sumber karbohidrat, sumber karbon organik, sebagai sumber energi bagi mikroba.
- Agar, sebagai bahan pemadat medium.
- Akuades, sebagai bahan pelarut untuk menghomogenkan larutan.
Nutrien Agar (NA)
Medium NA berdasarkan konsistensinya merupakan medium yang berbentuk padat (solid medium), karena dapat dipadatkan dengan adanya agar, yang dibuat miring atau tegak. Berdasarkan susunan kimianya, medium ini merupakan medium organik non-sintetik karena disusun dari bahan-bahan organik dan susunan kimianya belum ditentukan secara pasti.
Medium NA berfungsi untuk menumbuhkan mikroba atau bakteri pada permukaan sehingga mudah diisolasi dan diidentifikasi. Medium ini dapat dibuat dalam 2 jenis, yaitu NA miring dan NA tegak. NA miring digunakan untuk membiakkan mikroba sedangkan NA tegak digunakan untuk menstimulir pertumbuhan bakteri dalam kondisi kekurangan oksigen.
NA digolongkan pula medium umum sebab dapat digunakan untuk menumbuhkan beberapa jenis bakteri. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatannya adalah:
- Pepton, sebagai sumber utama nitrogen dan protein bagi mikroba.
- Beef ekstrak, sebagai sumber makanan, sumber karbon organik, nitrogen, vitamin, dan garam mineral sebagai tempat pertumbuhan mikroba.
- Agar, berfungsi sebagai pemadat medium.
- Akuades, sebagai bahan pelarut dan untuk menghomogenkan larutan.
Potato Dekstrose Agar (PDA)
Medium Potato Dextrose Agar (PDA) berfungsi untuk menumbuhkan kapang dan jamur. Berdasarkan susunan kimianya, medium ini termasuk medium alamiah non-sintetik, karena menggunakan bahan alamiah (kentang). Akan tetapi komposisi kimianya tidak diketahui secara pasti. Termasuk medium padat karena dalam pembuatannya menggunakan agar sebagai bahan pemadat. Berdasarkan fungsinya, medium PDA ini termasuk medium umum karena dapat digunakan untuk menumbuhkan satu atau lebih kelompok jamur. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan medium PDA adalah:
- Kentang, sebagai sumber karbon, karbohidrat dan nutrisi bagi mikroba.
- Dextrose sebagai sumber enegi dan sebagai sumber karbon.
- Agar, sebagai bahan pemadat medium.
- Akuades, sebagai bahan pelarut dalam pembuatan medium dan sebagai sumber O2.

Kontaminasi
Kontaminasi adalah proses tercemarnya suatu zat terhadap zat lain yang tidak diinginkan. Dalam praktikum ini bila pengerjaan proses praktikum tidak steril maka akan tercemar oleh mikroba seperti khamir dan kapang.
Kapang (mould/filamentous fungi) merupakan mikroorganisme anggota Kingdom Fungi yang membentuk hifa. Kapang bukan merupakan kelompok taksonomi yang resmi, sehingga anggota-anggota dari kapang tersebar ke dalam filum Glomeromycota, Ascomycota, dan Basidiomycota. Carlile & Watkinson  menyatakan bahwa jumlah spesies fungi yang telah teridentifikasi hingga tahun 1994 mencapai 70.000 spesies, dengan perkiraan penambahan 600 spesies setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 10.000 spesies merupakan kapang. Menurut Moncalvo dan Kuhn & Ghannoum, sebagian besar spesies fungi terdapat di daerah tropis disebabkan karena kondisi iklim daerah torpis yang hangat dan lembab yang mendukung pertumbuhannya. Habitat kapang sangat beragam, namun pada umumnya kapang dapat tumbuh pada substrat yang mengandung sumber karbon         organik.

Khamir adalah fungi ekasel (uniselular) yang beberapa jenis spesiesnya umum digunakan untuk membuat roti, fermentasi minuman beralkohol, dan bahkan digunakan percobaan sel bahan bakar. Kebanyakan khamir merupakan anggota divisi Ascomycota, walaupun ada juga yang digolongkan dalam Basidiomycota. Beberapa jenis khamir, seperti Candida albicans, dapat menyebabkan infeksi pada manusia (kandidiasis). Lebih dari seribu spesies khamir telah diidentifikasi. Khamir yang paling umum digunakan adalah Saccharomyces cerevisiae, yang dimanfaatkan untuk produksi anggur, roti, dan bir sejak ribuan tahun yang silam dalam bentuk    ragi.
Gangguan kesehatan yang diakibatkan spora kapang dan kahamir terutama akan menyerang saluran pernapasan. Asma, alergi rinitis, dan sinusitis merupakan gangguan kesehatan yang paling umum dijumpai sebagai hasil kerja sistem imun tubuh yang menyerang spora yang terhirup (Curtis et al. 2004; Mazur et al. 2006). Penyakit lain adalah infeksi kapang pada saluran pernapasan, atau disebut mikosis. Salah satu penyakit mikosis yang umum adalah Aspergillosis, yaitu tumbuhnya kapang dari genus Aspergillus pada saluran pernapasan (Soubani & Chandrasekar 2002). Selain genus Aspergillus, beberapa spesies dari genus Curvularia dan Penicillium juga dapat menginfeksi saluran pernapasan dan menunjukkan gejala mirip seperti Aspergillosis.

Selama penyimpanan, makanan atau bahan makanan sangat mudah ditumbuhi oleh kapang. Iklim tropis yang dimiliki Indonesia dengan curah hujan, suhu dan kelembaban yang tinggi sangat mendukung pertumbuhan kapang penghasil mikotoksin. Kontaminasi mikotoksin tidak hanya menurunkan kualitas bahan pangan/pakan dan mempengaruhi nilai ekonomis, tetapi juga membahayakan kesehatan manusia dan hewan. Berbagai penyakit dapat ditimbulkan oleh mikotoksin, seperti kanker hati yang disebabkan oleh aflatoksin, salah satu jenis mikotoksin yang paling banyak ditemukan di negara beriklim tropis. Karena adanya kontaminasi mikotoksin tidak kasat mata, terlebih lagi pada makanan olahan, maka diperlu kewaspadaan dalam memilih makanan terutama bahan makanan atau makanan olahan yang telah disimpan dalam waktu lama.


Destruksi
Destruksi merupakan proses pemusnahan pada hasil pekerjaan mikrobiologi yang telah mengandung mikroorganisme sebelum dilakukan pencucian. Proses destruksi ini penting untuk dilakukan, hal ini bertujuan untuk membersihkan semua mikroorganisme yang terdapat pada alat alat yang telah digunakan pada saat percobaan. Karena kita tidak dapat memastikan bahwa alat alat itu bersih sebelum di destruksi, bisa saja terdapat bakteri atau mikroorganisme yang dapat membahayakan diri kita. Proses ini umumnya di lakukan dengan memasukkan semua wadah atau alat hasil percobaan (yang sudah d kontakan dengan mikroorganisme) ke dalam autoklaf, kemudian di aktifkan pada suhu 121 derajat celcius selama 30 menit. Bila telah selesai, wadah yang mengandung media dan mikroba hasil percobaan (yang telah cair) dapat di buang ke pembuangan umum, kemudian alat dicuci bersih dengan air sabun.















BAB V
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
1. Mikroorganisme dapat dikembangkan oleh manusia diantaranya melalui substrat yang    disebut media.
 2. Nutrien dalam medium harus memenuhi kebutuhan dasar makhluk hidup, yang meliputi air, karbon, energi, mineral dan faktor tumbuh.
3. Kentang adalah bahan yang baik untuk digunakan sebagai bahan media buatan karena banyak mengandung karbohidrat.
4. penggunaan alat dan bahan dalam bekerja haruslah slalu terjaga dari kontaminan.
5. Dalam pengidentifikasian bakteri terdapat berbagai macam sifat pertumbuhan koloni bakteri, baik itu koloni yang terdapat dalam cawan petri, agar miring maupun agar tegak.
6. Kontaminasi adalah proses tercemarnya suatu zat terhadap zat lain yang tidak diinginkan. Dalam praktikum ini bila pengerjaan proses praktikum tidak steril maka akan tercemar oleh mikroba seperti khamir dan kapang.
7. Jenis mikroba ada : bakteri, kapang, khamir.
B. Saran
1. laboratorium pada saat praktikum harus lebih bersih lagi.




DAFTAR PUSTAKA

http://pocilgembalasapi.blogspot.com/2009/11/laporan-mikrobiologi.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar